Ramai PHK Massal di Industri Financial technology, Ini Tanggapan dari AFPI

Ramai PHK Massal di Industri Financial technology, Ini Tanggapan dari AFPI

Ekonomi dunia diramalkan masih hadapi banyak rintangan pada tahun depannya. Ini bersamaan dengan ketidakjelasan keadaan geopolitik yang berpengaruh pada peningkatan pergerakan inflasi dan resiko stagflasi.

Mengakibatkan, cukup banyak perusahaan mulai lakukan efektivitas untuk mempertahankan kesehatan keuangan perusahaan. Satu diantaranya dengan lakukan penghentian hubungan kerja (PHK) ke pegawai.

Industri financial technology P2P lending menjadi satu diantara yang terimbas karena ketidakjelasan ekonomi global sekarang ini. Cukup banyak dari perusahaan financial technology P2P lending putuskan lakukan PHK.

Tentang itu, Ketua Federasi Financial technology Permodalan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi menjelaskan,

sebagai pebisnis, tentu saja harus memerhatikan penghasilan dan pengeluaran. Bila pengeluaran terlampau tinggi, dan opini tidak tutupi, karena itu perusahaan itu wajib melakukan langkah-langkah.

Menurut dia, untuk keputusan PHK diambil berdasar keputusan masing - masing management di perusahaan. Keputusan ini awalnya, telah dilaksanakan berdasar analitisi yang masak dan dalam.

"Kita sebagai pebisnis pada akhirannya harus ambil keputasan (PHK), jika ingin usahanya dapat bersambung terus dan terus sehat," kata Adrian saat pertemuan jurnalis acara financial technology summit dan bulan financial technology nasional, Senin (7/11).

Adrian tidak dapat pastikan apa tahun depannya bisa terjadi PHK kembali atau mungkin tidak pada industri financial technology P2P lending. Menurut dia, hal itu tergantung dari perubahan esensial usaha masing - masing perusahaan.

Misalkan, apa perusahaan itu mempunyai fragmen pasar yang terang. Selanjutnya, apa perusahaan itu sanggup turunkan ongkos pemerolehan.

Oleh karena itu, dia minta perusahaan financial technology P2P lending bekerja bersama dengan ekosistem di instansi jasa keuangan. Bila tidak dilaksanakan, karena itu ongkos pemerolehan akan lebih mahal.

"Kerja-sama yang sudah dilakukan dapat dengan ekosistem instansi jasa keuangan, hingga funding-nya tidak tergantung pada ritel, tapi ada pula dari lembaga perbankan, multifinace dan lain-lain," tutur Adrian.

Kedatangan financial technology lending diharap dapat menjadi satu diantara jalan keluar dari permasalahan ini. Menurut Adrian, industri financial technology lending bisa dibuktikan bisa memberi keringanan service keuangan di tengah-tengah masih jumlahnya warga Indonesia masih masuk ke kelompok unbanked.

"Ini kelihatan dari lahirnya industri financial technology lending yang didorong tingginya jarak credit di Indonesia, yaitu capai Rp 1.650 triliun per 2018, terutamanya di kelompok masyarakat unbanked dan underserved," ujarnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama