10 Contoh Puisi Alam yang Mengutarakan Rasa Sukur dan Memvisualisasikan Keelokan Semesta

10 Contoh Puisi Alam yang Mengutarakan Rasa Sukur dan Memvisualisasikan Keelokan Semesta

Keelokan alam sekitaran bisa Mam dan Dads ungkap lewat beragam langkah, dimulai dari photo, video sampai kalimat, seperti puisi. Saksikan contoh puisi alam di sini, yok! Sesuai pengertiannya, puisi sebuah kreasi sastra yang berisi pernyataan atau tulisan si penyair yang dibungkus memakai bahasa yang cantik. Biasanya bahasa dan kalimat pada puisi diatur dengan susunan rima dan irama dalam tiap baitnya. Dengan demikian puisi alam sebuah kreasi sastra dengan kalimat yang cantik dalam usaha pelukisan situasi alam atau panorama alam yang elok. Pembikinan atau pembacaan puisi topik alam bisa menolong Mam dan Dads untuk mengambarkan panorama yang cantik. Untuk Mam yang mencari contoh puisi alam, yok lihat!

Bermacam Puisi Alam

Membacakan puisi alam sangat terasa cantik, ini karena pelukisan peristiwa dan panorama yang cantik bisa kelihatan benar-benar spesial untuk pendengarnya. Berikut contoh-contoh puisi alam yang dapat Mam atau Dads pakai untuk mengutarakan panorama cantik atau situasi alam:

1. Rimba Karet (Kreasi Joko Pinurbo)

Daun-daun karet berantakan

Berantakan di bentangan waktu

Suara monyet di dahan-dahan

Suara kalong menepis petang

Di puncak-pucuk ilalang belalang berloncatan

Berloncatan di semak-semak kangen


Dan sebuah jalan melingkar-lingkar

Membelit masa lalu curam

Sebentar saat sebelum surya berakhir

Masih kudengar suara bedug bertalu-talu

2. Hujan Bulan Juni (Kreasi Sapardi Djoko Damono)

Tidak ada yang lebih tegar

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

ke pohon berbunga itu


Tidak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu di jalan itu


Tidak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tidak terkatakan

diserap akar pohon bunga itu

3. Derai-Derai Cemara (Kreasi Chairil Anwar)

Cemara menderai sampai jauh

berasa hari bakal menjadi malam

Ada banyak dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terkubur


Saya saat ini orangnya dapat tahan

telah berapakah waktu bukan kanak kembali

Tetapi dahulu benar ada satu bahan

yang bukan dasar penghitungan sekarang


Hidup cuma tunda kekalahan

lebih terkucil dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tidak diucap

saat sebelum pada akhirannya kita berserah

4. Akulah Sang Telaga (Kreasi Sapardi Djoko Damono)

Akulah sang telaga: melautlah di atasnya

melautlah menyibakkan riak kecil yang gerakkan bunga-bunga padma

Melautlah sekalian melihat wanginya sinar

sesampainya di seberang sana, meninggalkan demikian saja

Perahumu agar saya yang mengawasinya

5. Lagu Daun (Kreasi Yudhistira ANM Massardi)

Dalam gerak lamban

Cinta hinggap di daun

Jadi madu kupu-kupu

Dan tapak jejak embun

Membasahi jarimu

Sampai pagi menjalar

Memutihkan semua niat

Yang diinginkan malam

Saat bulan berkilau

Sampai duka sirna

Saat sebelum kokok ayam


Dalam gerak lamban

Cinta membuat gambar

Dengan hijau dan kuning

Memadu sunyi dan bening

Pada ke-2 bola mata

Seperti cinta pertamamu

Bunga lily dan melati

Dua puisi yang menyanyi

Dengan mawar pada pipi

Sepasang bibir yang tersenyum

Setiap lembar daun.

6. Alam Ialah Jiwaku (Kreasi Putubiung)

Saya menyukai alam fanaku

Pada tiap lembar rumput

Pada tiap lautan pasir

Pada tiap semak dan pohon

Pada air yang memberikan kesuburan


Saya rindukan alam fanaku

Seperti pohon rindukan angin

Seperti tanah rindukan hujan

Seperti daun rindukan butiran embun


Seperti jiwaku yang punyai hati

Hatiku punyai rasa

Rasaku punyai cinta

Dan cintaku pada alam


Karena alam ialah guruku

Alam yang membuat jiwaku

Untuk tabah dalam peraturan

7. Lautan yang Cantik dan Tenang (Kreasi Rini Sita)

Lautan yang cantik dan tenang

Kelihatan ikan yang bercanda ria

Dibalik terumbu karang yang terlihat kuat

Bersama tanaman laut yang bergerak cantik


Manusia yang menyaksikan itu benar-benar kagum

Ikan-ikan berenang dengan cerah

Air laut terlihat tenang dan tidak bergelombang

Suasan lautan benar-benar nyaman dan tenang

8. Nyanyian Satwa Alam (Kreasi Arie Anggara)

Serangkaian kata cantik seperti taman bunga

Tarian pena menarik jiwa

Bangkitlah nafsu keinginan memikat

Lentik jemari membekap lubuk hati


Deru pojok kecil memandang tajam

Senyuman manis menusuk dada

Gelapnya jagad kecil menari cantik

Cuma untuk raih si bintang


Simpel bahasa jalana

Tersisih dari cantiknya golongan bangsawan

Berasa risi sapu bersih

Pesta capai kemenangan si hewan menyanyi

9. Sajak Alam (Kreasi Sukma Taufik)

Lekuk tanah bukit gunung membubung

Sepoi angin melambai-lambai, daun ranting ilalang bergoyang

Mentari turun memotong kesunyian, seruling penggembala memulai pagi

Kenyamanan terhidang tapak-tapak kaki tidak terjamah pencemaran


Terbentang luas tanah mulia hijau subur makmur

Di kebun bukit dan gunung

Sejuk menghampar saat mata melihat

Keelokan alam tidak bisa tebayangkan

Hasil kreasinya cipta Tuhan


Tetapi sekarang kidung cinta musim tuai lamat-lamat musnah acara pesta tlah selesai tidak ada kembali

Kembang bermekaran dilindas roda jaman

Tersusupi debu pencemaran yangan-tangan rakus mengadili

Menggerus mengganti penampilan alam

Kesetimbangan juga lenyap bencana tiba menjelma musibah terjang


Entahlah sampai kapan

Alam sanggup bertahan dari serangan

Serangan perkembangan zaman

10. Pantai (Kreasi Panca Empri)

Kubiarkan ombak menguap

Ke-2 kakiku seperti menari-nari

Dalam buaian keriaan kalbumu kupandang jauh


Jauh di ufuk kebiruan bersatu yang menjadikan satu langit dan laut

Tetapi waktupun sesaat berakhir bergerak dari daya tarik


Dengan bentangan pasir putihmu

Debur ombak yang berdebar-debar dan keceriaan anak-anak ketawa

Tersenyum dan lesung pipimu

Bak goresan pasir jari-jemari lentik yang kadang-kadang gelombang menyapanya

Saat yang tidak pernah kembali jalan bahkan juga lari


Izinkanlah kutemui

Bukan hanya untaian mimpi

Kan kubasuh kakiku di pantaimu

Tersebut contoh-contoh puisi alam yang dapat Mam dan Dads baca untuk memvisualisasikan cantiknya panorama.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama