Penjelasan Keluarnya Cairan Bening Setelah Berhubungan Intim

Penjelasan Keluarnya Cairan Bening Setelah Berhubungan Intim

Mam, sudah pernahkah sesudah terkait keluar cairan bening encer? Nach, ini ialah hal yang normal. Saat wanita terangsang secara seksual, vagina akan hasilkan cairan yang berperan sebagai pelumas. Hal itu mempunyai tujuan supaya proses penetratif tidak menyakitkan dan memunculkan cedera pada vagina. Tetapi, beberapa wanita alami keadaan vagina yang terlampau basah saat lakukan hubungan seks.

Hal itu juga dapat memunculkan ketaknyamanan saat lakukan sex. Saat keluar cairan bening seperti air sesudah terkait, apa membuat Mam cemas? Cairan bening yang keluar vagina sesudah lakukan hubungan seksual bisa disebut normal. Tetapi, ada juga lubrikasi vagina yang disebabkan karena infeksi jamur atau bakteri.

Bila terkena jamur, cairan bening yang keluar vagina itu dapat terlalu berlebih Lalu, saat keluar cairan bening seperti air sesudah terkait, apa hal itu normal atau malah terkena jamur? Hal itu sudah pasti penting untuk dipahami selanjutnya. Karena secara umum, makin terangsang seorang wanita, karena itu cairan yang dikeluarkan akan makin bertambah.

Sesudah Terkait Keluar Cairan Bening Encer 

Kemungkinan Anda sebagai wanita pernah merasakan keluar cairan bening seperti pipis tapi datang dari vagina. Walau sebenarnya umumnya, cairan keputihan lebih kental dan warna putih. Lalu, apa keputihan seperti air kencing ini normal atau mungkin tanda penyakit tertentu? Apa yang seharusnya dilaksanakan jika alami ini? Baca jawabnya di sini, ya!

Sesudah terkait keluar cairan bening encer ialah proses alami dari badan. Bahkan juga keluar cairan being seperti pipis juga masih sebagai hal normal, ya Mam. Menurut dr. Putri Deva Karimah, Sp.OG, Dokter Specialist Kebidanan dan Kandungan, cairan bening encer yang keluar ialah normal.

"Cairan bening encer sesudah terkait sebagai hal yang normal," terang dokter yang praktik di RS Pondok Cantik, Jakarta Selatan, ini.

"Biasanya, wanita saat terangsang saat berhubungan seks akan keluarkan cairan lubrikasi yang berperan sebagai pelumas," sambungnya.

Keluarnya cairan bening encer ini mempunyai tujuan supaya proses penertrasi tidak menyakitkan dan memunculkan cedera pada vagina, Mam. Kadang sesudah terkait, cairan bening akan keluar sebagai proses pembersihan dengan alami oleh vagina.

"Cairan itu menjadi hal yang normal atau mungkin tidak normal," tutur dr. Putri.

"Jika cairan bau dan mengakibatkan rasa gatal, seharusnya memeriksa diri ke dokter specialist kebidanan dan kandungan," sambungnya.

Nach, cairan ini dinamakan sebagai cairan lubrikasi, umumnya keluar saat berhubungan seksual yang berperan sebagai pelumas. Sama seperti yang telah disentil, cairan itu mempunyai tujuan supaya proses penetratif tidak menyakitkan dan memunculkan cedera pada wilayah vagina. Di lain sisi, keluarnya cairan dari vagina atau umum disebutkan keputihan ialah hal yang umum.

"Cairan atau keputihan itu biasanya muncul sebelum serta sesudah menstruasi atau sesudah melakukan aktivitas berat seperti olahraga dan melakukan hubungan intim," terang dr. Putri.

Peranan dari cairan vagina ini sebagai proses pembersihan alami oleh vagina. Walau vagina dapat bersihkan dirinya, tetap harus perduli akan kebersihan wilayah vagina, ya Mam.

"Tetapi, wanita harus tetap perduli akan wilayah vagina dan memerhatikan kebersihannya," jelas dr. Putri.

"Cairan vagina yang terlalu berlebih, bau, dan mengakibatkan rasa gatal atau iritasi menjadi hal yang tidak normal dan perlu perawatan khusus oleh dokter," tutup dr. Putri.

Keluar Cairan Bening Seperti Pipis dari Vagina, Normalkah?

Kemungkinan Anda sebagai wanita pernah merasakan keluar cairan bening seperti pipis tapi datang dari vagina. Walau sebenarnya umumnya, cairan keputihan lebih kental dan warna putih. Lalu, apa keputihan seperti air kencing ini normal atau mungkin tanda penyakit tertentu? Apa yang seharusnya dilaksanakan jika alami ini? Baca jawabnya di sini, ya!

Penting untuk mempertahankan kesehatan badan dan organ reproduksi supaya terbebas dari beragam permasalahan kesehatan yang dapat serang wanita. Anda kemungkinan jadi cemas jika menyaksikan cairan keputihan Anda tidak seperti beberapa hari umumnya, misalkan terlampau kental, terlampau encer, kebanyakan, dan lain-lain.

Merilis situs Sutter Health, keputihan yang bening dan encer seperti air kencing masih termasuk normal. Sebagian orang menyaksikannya sebagai keluar cairan bening seperti pipis . Maka, Anda sebetulnya tak perlu cemas. Harus dipahami jika keadaan keputihan yang Anda rasakan setiap saat kemungkinan berbeda, bergantung peralihan hormonal.

Peralihan hormonal umumnya muncul karena transisi menstruasi, periode ovulasi, pemakaian KB hormonal, dan kegiatan seksual. Beberapa type yang termasuk sebagai keputihan normal yakni:

1. Warna putih dan kental.

Ini umumnya terjadi di awal atau akhir transisi menstruasi. Asal tidak berasa gatal, karena itu cairan yang keluar vagina termasuk normal.

2. Bening dan plastis

Jika Anda alami keputihan yang semacam ini memiliki arti Anda sedang dalam periode subur.Ini sama seperti seperti keluar cairan bening seperti pipis yang sebetulnya ialah keputihan.

3. Bening dan encer

Keputihan berbentuk cairan bening yang keluar vagina dapat terjadi kapan pun pada transisi menstruasi. Umumnya, keadaan ini terjadi sesudah Anda olahraga atau melakukan aktivitas fisik yang lumayan berat.

4. Warna kecoklat-coklatan

Ini umumnya terjadi sesudah masa haid usai. Warna coklat itu datang dari beberapa sisa darah haid Anda.

5. Ada bintik darah

Keputihan berbentuk bintik darah bisa ada pada tengah transisi haid atau pada periode subur. Kadang ini sebagai darah implantasi yang mengisyaratkan kehamilan. Apa yang seharusnya dilaksanakan jika keputihan seperti air kencing?

Seperti yang diterangkan awalnya, keluar cairan bening seperti pipis dari vagina sebagai keputihan yang normal dan bukan tanda penyakit tertentu. Akan tetapi, baju dalam Anda beresiko jadi lembap karena keadaan itu hingga jamur dan bakteri penyakit dapat mengalami perkembangan biak di situ. Mengakibatkan, Anda jadi lebih beresiko alami vaginitis.

Merilis situs Planned Parenthood, beberapa cara berikut dapat Anda coba untuk menghindar vaginitis karena tempat kewanitaan yang lembap. Stop pemakaian pembalut, tampon, atau pencuci kewanitaan yang memiliki kandungan bahan pewangi karena beresiko mengakibatkan iritasi.

Jauhi menggunakan sabun mandi pada vagina atau merendam sama air sabun. Stop pemakaian detergent atau tisu toilet berpewangi jika tidak pas dengan kulit vagina Anda. Jauhi bersihkan vagina dengan douche karena bisa mematikan bakteri baik dan flora alami yang malah diperlukan oleh vagina. Membersihkan vagina sama air bersih atau memakai sabun tanpa pewangi.

Jauhi bersihkan sampai ke sisi dalam lubang vagina, cukup permukaan di luarnya saja. Yakinkan vagina Anda kering sesudah mandi atau buang air saat sebelum kenakan pakaian. Gunakan baju dalam dengan bahan katun yang bisa mempernyerap keringat secara baik supaya vagina Anda tidak lembap.

Selekasnya tukar celana Anda jika basah atau berasa lembap. Jika Anda memakai pembalut, panty liner, atau tampon, ubahlah tiap 4 sampai 8 jam. Berhati-hati memakai cairan pelumas, spermisida, atau kondom saat melakukan hubungan intim. Yakinkan Anda tidak alergi pada beberapa bahannya.

Beberapa ciri keputihan tidak normal yang penting Anda kenali

Keputihan sebagai hal yang lumrah dirasakan oleh tiap wanita, terhitung jika keluar cairan bening seperti pipis. Lumrah juga jika pada saat-saat tertentu Anda kemungkinan seringkali alami keputihan sepanjang ciri-cirinya masih normal.

Cairan keputihan tercipta dari kegiatan bakteri dan flora alami vagina yang mempunyai tujuan untuk menahan vagina kering. Vagina yang terlampau kering itu tidak bagus begitu juga jika terlampau lembap. Oleh karenanya, Anda perlu mengawasinya supaya kelembapannya masih tetap imbang.

Selainnya jaga kebersihan dan kelembapan tempat vagina, Anda pun perlu memperhatikan keadaan vagina Anda dan peralihan cairan yang keluar. Keluar cairan bening seperti pipis dari vagina terhitung normal. Tetapi, jika memperlihatkan beberapa ciri berikut, bisa saja vagina Anda mengalami infeksi bakteri atau jamur.

  • Keputihan warna kekuningan atau kehijauan,
  • Keputihan bau amis,
  • Vagina berasa ngilu, dan
  • Berasa gatal, perih, atau kesan terbakar.

Jika Anda sangsi apa keputihan Anda normal atau mungkin tidak atau Anda cemas dengan penyakit tertentu, coba memeriksa diri ke dokter kulit dan kelamin.

Ketidaksamaan Lubrikan Normal dan Lubrikan Terkena Jamur

Mam, telah memahami bukan kenapa sesudah terkait keluar cairan bening encer? Seperti keterangan dr. Putri Deva Karimah cairan ini normal. Tetapi, bagaimanakah cara membandingkan cairan lubrikan yang normal sama yang terkena jamur?

Bila sesudah terkait keluar cairan bening encer yang dibarengi berbau dan gatal, karena itu dapat disebutkan cairan itu tidak normal. Cairan lubrikan yang normal umumnya memiliki warna bening, kental, cukup lekat, tidak hasilkan berbau, dan tidak mengakibatkan keluh kesah lain seperti gatal atau ngilu.

Tetapi, jika cairan vagina yang Mam mengeluarkan berbau, berbeda warna, dan atau mengakibatkan gatal dan ngilu, sebaiknya Mam selekasnya lakukan diskusi sama dokter supaya bisa dilaksanakan pengecekan langsung dan pengatasan yang sesuai keadaan sekarang ini.

Maka saat sesudah terkait keluar cairan bening encer seperti air tidak memunculkan rasa gatal, bau dan warna, hal itu bukan sebuah permasalahan. Sayang, ada banyak lelaki yang berasumsi jika vagina yang kesat, kering dan tidak becek ialah keadaan yang bagus. Walau sebenarnya itu bukan hal yang salah dan beresiko untuk vagina.

Pemicu Keadaan Vagina Kering

Bila sesudah terkait keluar cairan bening encer seperti air, itu karena pelumas alami yang dibuat oleh serviks atau leher kandungan. Produksi pelumas vagina ini tentu saja akan bertambah saat alami rangsangan seksual. Lantas, bagaimana bila vagina malah kering? Yok, ulas lebih dalam berkenaan vagina kering walau telah memperoleh rangsangan seksual! 

Dikutip dari Healthline, produksi hormon estrogen akan menyusut pada periode menopause dan akan stop dengan bertahap. Saat hormon estrogen turun, keadaan itu dapat mengakibatkan atrofi vagina, yaitu keadaaan saat dinding vagina jadi lebih tipis dan elastisitasnya menyusut. Jika hal tersebut terjadi, produksi pelumas alami akan turun hingga vagina jadi kering.

Tetapi, bila Mam belum juga masuk umur menopause, faktor-faktor lain juga dapat mempengaruhi keadaan vagina yang kering, seperti;

  • Minimnya foreplay saat sebelum lakukan hubungan seks,
  • Terlampau berasa depresi dan kuatir,
  • Mempunyai permasalahan dalam jalinan,
  • Pemakaian produk pencuci kewanitaan,
  • Menggunakan celana dalam atau handuk yang dicuci memakai detergen yang memiliki kandungan bahan kimia tertentu yang mengakibatkan alergi,
  • Vagina yang terkena bahan kimia saat di kolam renang,
  • Pada kondisi sesudah melahirkan atau sedang menyusui,
  • Konsumsi antidepresan,
  • Sedang pada proses jalani perawatan kanker,
  • Pernah jalani operasi pengangkatan ovarium atau dinding telur,
  • Mempunyai alergi.

Selainnya keluar cairan bening seperti air sesudah terkait yang tidak normal, rupanya vagina bisa juga alami persoal terlampau kering. Lalu, ini langkah menanganinya? Berikut paparan selengkapnya!

Menangani Persoalan Vagina Kering

Memang sesudah terkait keluar cairan bening encer dari vagina itu hal yang lumrah, tapi ada wanita yang tidak keluarkan cairan bening. Ya, keadaan ini umumnya disebutkan dengan vagina kering, Mam. Bila Mam ingin lakukan diskusi, umumnya dokter akan merekomendasikan untuk lakukan terapi hormon untuk menangani vagina kering.

Therapy hormon dapat dilaksanakan dengan 2 langkah, yaitu memakai obat minum alias oral. Lalu, lakukan penerapan hormon di kulit supaya teresap oleh badan atau yang umum disebutkan dengan transdermal. Sistem transdermal umumnya dilaksanakan dengan memakai patch atau spray. Sistem ini tidak berpengaruh apa saja pada ginjal.

Sementara langkah oral bisa berpengaruh pada hati karena pil estrogen yang ditempatkan ke badan dengan diminum harus melalui hati. Harus diingat jika therapy hormon mempunyai resiko. Produk estrogen dapat memberi efek seperti ngilu payudara atau pendarahan pada vagina.

Tidak cuma sampai di situ, riset periode panjang mendapati jika pil hormon estrogen dapat tingkatkan resiko terserang stroke dan kanker endometrium. Dalam pada itu, konsumsi pil gabungan hormon estrogen dan progesterone dapat tingkatkan resiko terkena kanker payudara, stroke, dan penyakit serangan jantung.

Maka Mam harus pastikan telah lakukan diskusi sama dokter supaya bisa memperoleh pengatasan yang pas untuk persoalan yang dirasakan ya! Bila Mam tidak mau lakukan terapi hormon, ada cara-cara yang lain bisa juga dilaksanakan loh! Tetapi, Mam harus tetap lakukan diskusi sama dokter saat sebelum lakukan ini ya!

Panduan Menangani Vagina Kering

1. Menggunakan Pelumas

Pelumas yang diartikan di sini yaitu pelumas berbahan air yang umumnya efisien untuk membikin vagina basah, tetapi dengan durasi waktu beberapa saat saja. Selainnya untuk membikin vagina lembap, pelumas ini bermanfaat untuk penetratif saat sebelum berhubungan seks. Dalam pada itu, ada juga pelumas vagina yang berwujud cream. Pelumas tipe ini umumnya dapat bertahan sepanjang sehari penuh.

2. Pelembap Vagina

Produk pelembap vagina efisien untuk kurangi keadaan vagina kering. Umumnya produk ini dapat membuat vagina lembap sepanjang sekian hari dalam 1x penggunaan.

3. Cincin Estrogen Vagina

Cincin estrogen vagina ialah benda halus yang berwujud cincin. Benda ini akan ditempatkan ke vagina. Cincin estrogen ini bermanfaat untuk melepas hormon estrogen dengan bertahap ke jaringan vagina. Tetapi, produk ini harus ditukar tiap 12 minggu.

4. Tablet Estrogen Vagina

Tidak untuk diminum, tablet estrogen vagina ini ditempatkan ke organ penting. Jumlah penggunaannya dengan memasukkan 1x dalam satu hari sepanjang dua minggu awal. Bila minggu awal telah terlewatkan, Mam dapat memakainya dua minggu sekali sampai saat yang telah ditetapkan oleh dokter.

5. Cream Estrogen Vagina

Cream ini dipakai tiap hari dalam waktu 1 sampai dua minggu. Selanjutnya, frekwensi penggunaannya akan menyusut jadi 1 sampai 3x satu minggu sama sesuai saran dokter. Penerapan cream ini juga dapat memakai aplikasi, Mam.

Nach, janganlah lupa selalu konsultasi sama dokter untuk macam permasalahan vagina, seperti keluar cairan bening seperti air sesudah terkait atau kekeringan. Lalu, untuk menghindar vagina berjamur, Mam seharusnya jaga kebersihan vagina secara baik dan janganlah lupa untuk menukar baju dalam.

Untuk menahan vagina kering, jauhi factor pemicunya seperti pemakaian sabun mandi, sabun berparfum, dan losion di tempat sekitaran vagina. Rangkaian produk itu menjadi penyebab vagina kering. Nach, tentu saja Mam telah memahami bukan kenapa sesudah terkait keluar cairan bening encer? Tak perlu cemas, ya Mam karena ini ialah hal normal. 

Tetapi, yakinkan cairan yang keluar tidak bau dan tidak memunculkan tanda-tanda lain sama seperti yang telah disebut sebelumnya, ya. Bila mempunyai pertanyaan berkaitan topik yang telah diulas ini, tidak boleh malu atau sangsi untuk menuliskan di kotak kometar ya!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama