Mengenal Filsafat Stoikisme, Kunci Hidup Tenang Untuk Mendapatkan Kebahagiaan

Mengenal Filsafat Stoikisme, Kunci Hidup Tenang Untuk Mendapatkan Kebahagiaan

Siapakah yang tidak mau berbahagia? Tentu semuanya orang ingin rasakan kebahagiaan terus-terusan dalam kehidupannya. Tetapi, kebahagiaan tidak akan tiba sendirinya dan tidak dapat dikontrol, oleh karena itu kita harus dapat membuat langkah agar berbahagia. Jika bicara mengenai kebahagiaan, erat dengan konsentrasi pada hal yang kita tidak dapat kontrol, misalnya seperti respon dari pihak lain.

Sekarang, beberapa orang seringkali konsentrasi ke hal yang tidak dapat kita dikontrol, dibanding yang dapat dikontrol. Hal itu susah untuk munculkan kebahagiaan, karena kunci untuk mempunyai hidup berbahagia ialah memfokuskan diri pada beberapa hal yang dapat dikontrol dan bukan kebalikannya. Untuk mempunyai kebahagiaan yang riil, ada pengetahuan yang membahas hal semacam itu. Namanya ialah stoik/stoikisme yang disebut sisi dari pengetahuan filsafat.

apa sich yang tebersit dalam pemikiran kalian bila dengar kata filosofi? Ya, filosofi atau filsafat ialah cabang ilmu dan pengetahuan yang mengutamakan langkah berpikiran secara struktural. Filosofi kerap dikatakan sebagai dasar dari semua ilmu dan pengetahuan di dunia.

Salah satunya saluran pertimbangan dalam filosofi stoikisme yang paling berguna untuk manusia ialah filosofi stoikisme (stoicism). Stoikisme sebagai langkah berpikiran yang disampaikan dengan seorang filsuf Yunani Namanya Zeno. Dikutip dari The School of Life, filosofi ini mengajari ke manusia menjadi tenang dan berani dalam hadapi kekhawatiran dan kesakitan.

Pada dasarnya, stoikisme mengangkat langkah hidup yang bagus lewat akseptasi dengan mengganti hati negatif yang dirasakan di kehidupan jadi pertimbangan positif yang memberi ketenangan lewat olah pemahaman. Dengan itu, mengaplikasikan filosofi stoikisme akan membuat energi kita jadi lebih baik dan dipakai dengan maksimal, alias kita akan Berbahagia.

Secara ringkas, ada banyak Cara dasar yang dapat diterapkan untuk mengaplikasikan filosofi stoikisme secara betul. Yok Baca!

Apa Itu Stoikisme?

Stoikisme ialah sebuah pengetahuan filsafat dari zaman Yunani Kuno yang dibangun oleh Zeno dari Citium di awal era 3-SM. Stoikisme bisa disebut sebagai salah satunya pengetahuan filsafat pertama kali yang mempunyai karakter universal, karena beberapa filsuf awalnya selalu melihat Yunani sebagai bangsa dengan peradaban paling tinggi.

Menurut filosofi stoikisme, segala hal dalam kehidupan memiliki sifat netral, tidak ada yang bagus dan tidak ada yang jelek. Beberapa hal yang jadikan baik atau jeleknya satu hal ialah interpretasi kita pada hal itu. Beberapa filsuf stoik memandang jika kebahagiaan itu tidak semestinya dikejar, dan diwajibkan lebih konsentrasi untuk kurangi emosi negatif yang dipunyai, hingga dapat sanggup untuk mengontrol sikap dalam hadapi emosi itu.

Menurut ide stoikisme, untuk ke arah hidup berbahagia didasari pada beberapa konsep, yakni mempunyai kekuatan untuk menyaksikan diri kita dan manusia lain secara obyektif, menahan diri kita supaya tidak dikontrol oleh rasa ingin berbahagia atau takut pada merasa sakit dan kesengsaraan, dan membuat ketidaksamaan di antara kemampuan yang ada dan tidak ada. Bisa didalami dari ide ini jika kita tidak dapat mengontrol apa saja yang terjadi di luar diri, dan kita seharusnya konsentrasi untuk mengontrol yang dapat kita kontrol.

Langkah Membuat Skema Berpikir Stoikisme

Agar bisa mengaplikasikan sudut pandang stoikisme, ada cara-cara supaya kamu dapat membuat sudut pandang itu.

1. Membandingkan Hal yang Dapat Diganti dan Tidak Dapat Diganti

Sama seperti yang telah diterangkan awalnya, jika dalam stoikisme kita tidak dapat mengontrol hal yang terjadi di luar kendalian dan mengontrol yang dapat dikontrol. Dibanding pikirkan beberapa hal yang tidak dapat diraih, seharusnya pikirkan hal yang dipunyai saat ini dan mensyukurinya.

2. Lakukan Diri untuk Membuat Jurnal

Dengan membuat jurnal harian, karena itu kita dapat memperlengkapi diri dengan peristiwa di periode lalu dan jadi lebih baik dan berbahagia di masa depan. Jurnalnya dapat berisi hal seperti pengalaman individu, kalimat, atau mencuplik kalimat arif.

3. Menyiapkan Diri dan Sabar dalam Hadapi Permasalahan

Hidup tidak selamanya berbahagia dan pasti ada peristiwa di mana akan ada kalanya alami rasa tersuruk atau jatuh. Dalam pengetahuan stoikisme juga harus siap dengan penglihatan jika hidup mustahil akan nyaman dan menyenangkan.

Banyak peristiwa jelek yang kemungkinan mendekati kita, oleh karena itu usahakanlah menyiapkan diri untuk hadapi peristiwa itu, dan melatih diri untuk selalu kuat dalam hadapi scenario terjelek yang dapat terjadi.

4. Tiap Hal Jelek yang Datang Sebagai Sumber Kebahagiaan

Hidup akan berasa susah bila kita cuma fokus ke kesusahannya saja . Maka dibanding pikirkan hal yang jelek, alangkah baiknya kalau kita semakin banyak pikirkan mengenai hal baik. Dalam ide stoikisme, kebahagiaan tidak tiba sendiri, tetapi harus dibuat . Maka, sebaiknya semakin banyak pikirkan hal yang menyenangkan saja ya!

5. Kita Semua Cuma Butiran Kecil di Alam Semesta

Pokok dari ide stoikisme itu simpel, yakni kita cuma makhluk yang paling kecil di semesta alam ini. Begitupun beberapa hal negatif yang kita temui, semua seperti butiran kecil . Maka, mengapa tidak menukar beberapa hal negatif itu jadi beberapa hal lebih bagus yang hendak bawa kebahagiaan untuk diri kita?

6. Olah Pola pikir, Ketahui Diri dengan Baik

Salah satunya hal yang paling fundamental dari filosofi stoikisme ialah langkah berpikiran positif. Langkah untuk capai keadaan positivisme pertimbangan yakni dengan management pola pikir, bagaimana kita memproses beberapa hal yang berada di kepala kita secara baik. Entahlah dengan persoalan yang membuat kita ketekan atau bagaimana kita memutuskan.

Dibanding overthinking, olah pola pikir ini lebih worth it untuk dilaksanakan sebagai proses untuk hadapi diri kita, Beauties. Langkah gampangnya ialah, saat alami satu permasalahan, coba pikirkan apa pemicunya, siapakah yang turut serta, dan bagaimana jalan keluar terbaik secara struktural.

7. Ketahui Dimensi Kendalian Diri

Merilis dari Daily Stoic, salah satunya latihan paling penting dalam filosofi stoikisme ialah membandingkan mana suatu hal yang dapat kita buah dan tidak dapat kita ganti. Dalam pengertian lain, stoikisme punyai dua jenis dimensi kendalian diri. Yang pertama ialah dimensi dalam kendalian diri, misalkan pemahaman, emosi dan sikap kita pada suatu hal.sebuah hal. Maknanya, beberapa hal itu ialah suatu hal yang bisa kita kontrol atau kita kontrol.

Dimensi yang ke-2 ialah dimensi di luar kendalian diri. Yang maknanya, beberapa hal memiliki sifat external yang sebetulnya tidak dapat kita kontrol dengan apa saja. Misalnya pemahaman dan sikap seseorang pada kita, dan dari hasil usaha kita.

8. Menyimpan Keinginan Kebahagiaan dari Dalam Diri

Nach, dari pengenalan dimensi kendalian diri, kita dapat atur bagaimanakah cara kita capai kebahagiaan. Dimensi di luar kendalian tentu saja tidak dapat kita kontrol, bagaimana juga triknya. Maka dari itu, ialah percuma saja bila kita gantungkan kebahagiaan kita pada beberapa hal external.

Malah yang penting kita pusatkan ialah suatu hal yang ada pada diri kita. Kita tidak dapat atur bagaimana orang melihat kita, tetapi kita dapat atur kita untuk berlaku baik semaksimal kemungkinan dan usaha 'bodo amat' pada komentar miring seseorang.

9. Mengincar Arah Hidup dengan Baik

Saat ini kita sudah mengetahui langkah memproses pola pikir dan mengenal dimensi diri. Kemudian, kita dapat atur taktik untuk capai satu arah dalam kehidupan. Karena itu kita perlu mengincar apa sebetulnya arah itu, penting tidaknya untuk kebaikan kita, dan satu per satu membuat apa yang penting dilaksanakan.

Satu perihal yang jelas, Saat kita betul-betul inginkan suatu hal kita harus mengupayakan semaksimal kemungkinan sama sesuai kemampuan kita. Tidak boleh terlampau mengharap di hasil, karena hasil tidak dapat kita kontrol.

10. Belajar Terima

Arah khusus filosofi stoikisme ialah capai ketenangan dan kebahagiaan hidup. Hidup ialah masalah bertahan dan berusaha dalam hadapi semua ujian yang ada. Dengan demikian, kita perlu terus belajar dan terima kita dengan semua keadaannya. Akseptasi akan membuat ketenangan utama, yang hendak bersumber pada kebahagiaan yang sejauh ini kita mencari.

11. Konsentrasi pada Suatu hal yang Dapat Dilaksanakan

"Manusia terusik bukan oleh beberapa hal, tapi oleh penglihatan yang ia mengambil pada mereka." — Epictetus

Banyak atas sesuatu yang terjadi dalam kehidupan tidak ada dalam kendalian kita. Golongan Stoa mengaku kebenaran yang tidak terpungkiri ini, dan kebalikannya fokus dari sesuatu yang dapat mereka kerjakan.

Tercipta sebagai budak, nampaknya Epictetus tidak punyai argumen untuk yakin jika ia dapat mengontrol apa saja. Ia lumpuh secara tetap karena patah kaki yang diberi padanya oleh tuannya. Epictetus akan hidup dan mati dalam kemiskinan.

Tetapi bukan itu yang Epictetus pikir. Ia akan menjelaskan jika walau hartanya serta badannya tidak ada dalam kendaliannya, opini, kemauan, dan ketidaksukaannya masih tetap jadi kepunyaannya. Itu ialah suatu hal yang ia punyai.

Benar-benar gampang untuk frustrasi ini hari. Kita demikian terlatih dengan kenyamanan hingga ketaknyamanan sekecil apa saja memacu amarah pada diri kita. Bila internet memerlukan waktu satu detik semakin lama dari yang semestinya atau bila jalan raya macet sepanjang semenit, perasaan alaminya ialah masalah bila bukan amarah.

Bukan salah satunya dari kerusakan ini yang membuat kita tidak berbahagia. Ketakbahagiaan datang dari tanggapan emosional yang sudah kita tentukan. Tanggung-jawab ada di diri sendiri untuk pastikan jika kita tidak biarkan kejadian external memengaruhi kondisi batin kita.

Demikian kita menginternalisasi itu, jadi terang jika kita berkekuatan untuk berbahagia lepas dari kondisi kita.

12. Menjaga Waktu Anda

Golongan Stoa pahami jika waktu ialah asset paling besar kita. Tidak seperti harta benda kita, sekali lenyap, waktu tidak pernah dapat didapat kembali. Maka dari itu, kita harus usaha untuk menyia-nyiakannya sesedikit mungkin.

Mereka yang sia-siakan sumber daya yang sangat jarang ini untuk beberapa hal kecil atau selingan akan mendapati jika mereka tidak mempunyai apapun untuk diperlihatkan pada akhirannya. Rutinitas menahan-nahan dan tunda suatu hal akan balik menghantui kita. Esok tidak ditanggung.

Kebalikannya, mereka yang memberi waktunya dengan gratis ke seseorang akan merasakan jika mereka tidak lebih bagus pada mereka yang menyia-nyiakannya.

Mayoritas dari kita biarkan orang dan kewajiban lain memaksa waktu kita terlampau gampang. Kita membuat loyalitas tanpa pikirkan secara dalam apa yang terdapat didalamnya. Kalender dan agenda ditujukan untuk menolong kami. Kita semestinya tidak jadi budak mereka.

Lepas dari ujung spektrum mana kita jatuh, waktu ialah esensinya. Kita berpikir kita punyai beberapa waktu, tetapi sebetulnya tidak.

13. Tidak boleh Mengalihdayakan Kebahagiaan

Banyak atas sesuatu yang kita kerjakan datang dari keperluan dasar kita untuk dicintai dan diterima oleh seseorang. Penampikan dari barisan sosial kami mempunyai imbas serius di periode kemarin. Itu tetap betul sampai batasan tertentu ini hari. Tapi berapakah beberapa waktu dan usaha yang kita habiskan untuk coba memenangi kesepakatan seseorang? Berapakah ongkosnya untuk kita?

Kita habiskan uang yang tidak kita punyai, untuk beli beberapa barang eksklusif yang tidak kita perlukan, untuk mengagumkan seorang yang tidak kita hiraukan. Opsi karier atau pola hidup kita terpusat pada bagaimana seseorang melihat kita, dibanding apa yang terbaik untuk kita. Kami disandera dan bayar pelunasan raja tiap hari, tanpa agunan jika kami akan bebas.

Kebalikannya, negarawan Romawi Cato usaha jalani kehidupan yang mandiri dari opini seseorang. Ia akan kenakan pakaian yang paling aneh dan berjalan pada jalanan tanpa kenakan sepatu. Itu ialah triknya melatih dianya untuk malu cuma dari sesuatu yang patut dibuat malu, dan membenci semua tipe noda yang lain.

Tersebut salah satu langkah ia dapat menantang Julius Caesar, yang ia mengakui sedang kumpulkan kebanyakan kemampuan. Itu memungkinkannya ia untuk membikin keputusan besar saat itu diakui, tanpa takut akan tidak setujunya.

14. Masih tetap Konsentrasi Saat Hadapi Masalah

Kapitalisme jaman kekinian sudah memberikan kita beberapa pilihan. Baik itu makanan, perjalanan, atau selingan, kita mempunyai lebih beberapa hal untuk ditangani dibanding perintis kita. Tetapi, ini terang tidak memberikan keuntungan kita. Saat hadapi dengan demikian beberapa pilihan, kita jadi lumpuh oleh keragu-raguan.

Ini dikenali sebagai paradoks opsi. Otak kita belum sanggup ikuti perkembangan jaman kekinian dan kerepotan saat dihidangkan dengan demikian banyak info. Karena benar-benar susah untuk membikin opsi, opsi standar ialah menjaga status quo.

Itu salah satunya permasalahan pokok yang kita temui di kehidupan kita setiap hari. Dengan demikian beberapa pilihan, kita tak pernah betul-betul memiliki komitmen di suatu lajur. Kita tunda membuat keputusan atau memburu beberapa kegiatan sekalian. Hasilnya ialah kita tak pernah betul-betul membuat perkembangan sama sekalipun.

Golongan Stoa mengutamakan pentingnya perlakuan yang mempunyai tujuan. Kita harus waspada tidak untuk cuma bereaksi pada kondisi kita, tapi untuk hidup dengan menyengaja.

15. Buang Ego Dan Kesombongan

Salah satunya frustrasi paling besar Epictetus sebagai seorang guru ialah bagaimana siswa-muridnya mengeklaim jika mereka ingin diajar, tapi sembunyi-sembunyi yakin jika mereka mengetahui segala hal.

Ini menyakitkan, semua guru tahu dan umumnya dari kita akan mengenalnya. Pokok dari itu ialah ego dan kesombongan. Pemikirannya ialah jika kita sudah cukup belajar dan lebih bagus dibanding beberapa orang sezaman kita. Tidak ada pertimbangan semacam itu yang lebih beresiko dibanding ini hari.

Info ini hari tidak cukup hanya untuk pecahkan permasalahan masa datang, tapi bisa menjadi kendala untuk pertimbangan yang lebih tajam. Kita ada di jaman di mana kita cuma beberapa langkah kembali dari masalah hampir di tiap industri. Bahkan juga di jaman dulu Marcus Aurelius pernah berbicara, "semesta alam ialah peralihan, hidup ialah sebuah penilaian".

Berikut penyebabnya kenapa pemikiran paling berkilau sekarang ini habiskan mayoritas waktu mereka untuk membaca. Mereka pahami jika ada selalu makna yang dapat diambil, baik dari masa lampau, saat ini, atau masa datang.

16. Konsolidasikan Pemikiran dalam Menulis

Dari demikian beberapa hal yang bisa kita kerjakan tiap hari, tidak ada yang penting cari ke diri kita. Perlakuan refleksi diri memaksakan kita untuk menanyakan diri sendiri dan mengecek anggapan kita mengenai dunia. Demikianlah jawaban atas beberapa pertanyaan paling besar dunia ada.

Membuat jurnal masih tetap menjadi satu diantara langkah paling efisien untuk perhatian penuh. Ini tingkatkan kreasi, tingkatkan rasa sukur, dan berperan sebagai therapy sekalian. Faedahnya banyak. Perasaan dan pikiran Anda jadi lebih terang dalam tulisan dibanding dalam pemikiran Anda.

Golongan Stoa benar-benar mengetahui hal tersebut. Orang paling berkuasa di kekaisaran Romawi, Marcus Aurelius akan taat menyempatkan diri untuk menulis penilaian dan hatinya baik pada perang atau dalam damai. Itu yang kita mengenal saat ini sebagai Meditasi.

Sementara semuanya orang dimulai dari olahragawan sampai pebisnis mendapatkan faedah dari kebijakan Marcus Aurelius ini hari, terang jika yang menerima faedah paling besar dari tulisan dan pikirannya ialah dirinya.

Kejernihan pertimbangan dan responsibilitas yang diusung oleh jurnalnya membuat masih tetap beradab mulia saat siapa saja di tempatnya peluang akan melakukan perbuatan salah dan jadi tiran.

17. Pikirkan Hal Terjelek yang Dapat Terjadi

Banyak yang sudah disebutkan mengenai kemampuan berpikiran positif akhir-akhir ini. Kita diajari jika kepercayaan diri dan afirmasi ialah kunci untuk jalani hidup yang lebih berbahagia. Tetapi bukan itu yang dipercaya orang Stoa.

Mereka berasa jika praktek ini mengundang kepasifan di kehidupan kita setiap hari. Ini menggerakkan kita untuk cuma mengharap supaya kondisi jadi lebih baik dibanding ambil perlakuan riil. Bukannya menyanggah realita hidup yang keras, mereka memilih untuk menerimanya.

Mereka dengan teratur lakukan latihan yang dikenali sebagai premeditatio malorum, yang memiliki arti berencana kejahatan. Maksudnya untuk memikirkan kejadian terjelek yang kemungkinan terjadi dari mereka. Untuk beberapa orang, itu ialah kehilangan rekam jejak. Untuk seseorang, itu ialah keruntuhan keuangan dan kemiskinan. Tetapi umum untuk semuanya ialah peluang kematian.

Apa yang hendak seperti terlihat bila semua jalan salah esok?

Bagaimana saya menangani keadaan itu?

Haruskah ini mengganti langkah saya hidup ini hari?

Ini ialah beberapa pertanyaan yang mereka tanya pada diri sendiri. Latihan itu tak pernah tidak berhasil hasilkan imbalan yang bernilai. Golongan Stoa ambil beberapa langkah peringatan untuk pastikan jika hasil yang tidak diharapkan tidak bisa terjadi.

Bahkan juga saat tidak berhasil, mereka hidup lebih bagus karena mereka sudah merenungkan bagaimana mereka akan hadapi kesusahan yang mereka temui. Kita harus jujur secara beringas dengan diri sendiri dan tak pernah takut untuk hadapi realita. Tersebut langkah terbaik yang dapat kita siapkan untuk sukses dan siap untuk tidak berhasil.

18. Ingat-ingatlah Jika Tidak Ada yang Bertahan

Dalam pola besar, tidak satu juga atas sesuatu yang sudah kita raih penting. Ini ialah pertimbangan yang serius. Kita alami dunia seperti kita ada di pusat realita. Itu membuat fantasi di mana kebutuhan kita bertambah. Kita menyaksikan kita sebagai protagonis dalam narasi kita.

Tetapi sebetulnya pemahaman ini cuma berada di pemikiran kita. Semuanya orang disekitaran kita jalan dengan sudut pandang yang serupa, tapi masing-masing dari kita tak berarti dalam periode panjang. Bahkan juga pemikiran paling pintar seperti Edison dan Newton pada akhirannya akan di turunkan ke catatan kaki.

Tak perlu untuk kita untuk beradaptasi dengan keinginan irasional dan penekanan external. Kita tak perlu memburu prestasi dengan keinginan membuat peninggalan. Tidak satu juga dari beberapa hal ini bertahan. Yang perlu ialah kita jalani hidup dengan kita. Ini ialah salah satu langkah kita bisa betul-betul menjelaskan jika kita sudah jalani kehidupan yang bagus.

Riwayat Filsafat Stoikisme

Filsafat Stoikisme ada semenjak 301 SM atau era ketiga SM. Pemrakarsanya, yaitu beberapa filsuf Yunani Kuno di Athena namanya Zeno. Diteruskan selanjutnya oleh filsuf Stoa, yaitu Chrisippus, Cicero, Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca.

"Penyebutan Stoa karena beberapa filsuf itu berdiskusi dan berkomunikasi di Stoa. Mereka mengulas macam rumor dan topik, dari masalah teologi, astronomi, fisika, nalar, sampai norma. Perbincangan intinya ialah berkenaan filsafat kebijakan hidup dalam norma dan teologia," papar Dr Listiyono.

Beberapa orang Stoa berjumpa di luar, di muka umum, di teras ini, dan siapa saja bisa dengarkan pembicaraan itu. Anda dapat berpendapat jika itu ialah 'filosofi jalanan' untuk orang biasa, tidak cuma bangsawan.

Semenjak awalnya dan sepanjang nyaris lima era, Stoikisme adalah saluran filsafat yang paling punya pengaruh dan benar-benar disegani. Itu adalah disiplin sipil terpopuler di Barat, diterapkan oleh orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan pasien sama dalam memburu Kehidupan yang Baik.

Tetapi sepanjang beratus-ratus tahun, nyaris dua milenium, pengetahuan yang dahulu demikian penting menghilang dari penglihatan dan nyaris terlewatkan.

Baru semenjak tahun 1970-an Stoikisme kembali terkenal. Khususnya karenanya sudah jadi ide filosofis untuk Therapy Sikap Kognitif (CBT) dan karena penulis seperti William Irvine dan Ryan Holiday yang menulis mengenai filosofi itu.

Pengertian singkat stoikisme ialah filosofi yang mengajari bagaimana jaga pemikiran yang tenang dan logis tidak perduli apa yang terjadi pada Anda dan itu menolong Anda pahami dan konsentrasi dari sesuatu yang bisa Anda kontrol dan tidak cemas mengenai dan terima apa yang tidak bisa dikontrol.

Ide Filsafat Stoikisme

Pokok dari tuntunan filsafat stoikisme ialah kesejahteraan dan kebahagiaan. Seorang filsuf namanya Plato mengatakan sebagai Eudhomania. Maknanya, kebahagiaan ialah kelebihan hidup.

"Konsep khusus Stoa kuno ialah kepercayaan jika kita tidak bereaksi pada kejadian. Poin penting ialah penilaian kita mengenai mereka yang tergantung ke diri kita," tutur dosen Unair itu.

Dengan tidak bereaksi terlalu berlebih pada hidup, kita semakin lebih gampang terima realita. Dengan akseptasi ini, kita akan beberapa langkah lebih dekat sama kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama