Cara Mencegah dan Mengatasi Impulsive Buying

Cara Mencegah dan Mengatasi Impulsive Buying

Bersamaan dengan perubahan toko online dan marketplace, sikap stimulane buying menjadi satu diantara permasalahan baru yang ada. Budaya promo baru membuat orang inginkan dan beli beberapa benda yang tidak betul-betul diperlukannya. Stimulane buying rupanya mempunyai background psikis dan memacu beragam masalah psikis. Misalnya, bila benda yang diharapkan tidak bisa atau mungkin tidak sesuai kemauan, dapat memacu kekhawatiran dan merasa tidak berbahagia.

Bila kamu kerap belanjakan suatu hal yang tidak penting, karena itu kamu harus tahu panduan menahan stimulanive buying. Masalahnya stimulanive buying bisa muncul karena ada dorongan external seperti potongan harga, promo yang memikat, dan bujukan sesudah menyaksikan rekan atau bagian keluarga membeli.

Pasti, ini akan berpengaruh jelek, seperti kamu yang kehilangan dana lumayan besar dan hilangkan peluang beli kepentingan yang lebih bernilai. Memang, bagaimana panduan untuk menahan stimulanive buying? Pada artikel ini, Glints akan beri penuturannya untukmu. Baca secara lengkap!

Apa Itu Stimulanive Buying?

Mengambil sumber dari DevelopGoodHabits, stimulanive buying ialah satu sikap untuk beli suatu hal tanpa diperkirakan dan tanpa pikirkan selengkapnya peranan, arah, sampai resikonya. Seorang pada akhirnya lakukan pembelian itu karena ada satu dorongan yang mempengaruhi perbuatannya. Ini bisa berbentuk peletakan barang di status tertentu, atau karena ada tehnik promo yang memikat.

Perlakuan stimulanive buying tidak cuma terjadi pada pembelian secara off-line, tetapi dapat terjadi lewat cara online. Dengan timbulnya media sosial dan situs e-commerce, seorang semakin lebih gampang tertarik untuk lakukan stimulanive buying. Ini karena ada iklan yang ada di sosial media, potongan harga, dan referensi barang yang sama sesuai sikap customer di website e-commerce. 

Pembelian barang lewat cara online juga termasuk cukuplah gampang, hingga membuat dorongan seorang untuk beli barang makin besar. Dikutip dari Pijar Psikologi, stimulane buying ialah sikap beli terlalu berlebih dan tidak didasari pada pemikiran yang masak. Saat telah mempunyai dorongan untuk beli, dia akan menjaga kemauan itu dan beli barang yang diinginnya. Sikap ini sebagai sikap hedonistik karena disertai rasa senang saat sukses beli benda itu. 

Sayang banyak dampak negatif yang diakibatkan sikap ini. Contoh stimulane buying dilukiskan dalam film Confessions of a Shopaholic yang tampil di tahun 2009. Film ini menceritakan seorang wanita namanya Rebecca Bloomwood yang terus-terusan beli beberapa benda keluaran terkini yang tidak betul-betul diperlukannya. Bahkan juga, Rebecca sampai terbelit utang dengan jumlah yang besar karena selalu mengikuti kemauannya belanja. Beberapa hari Rebecca dihantui rasa kuatir karena kerap diteror dan dituruti oleh penagih utang.

Stimulanive buying sebuah sikap seorang dalam beli satu barang atau jasa secara mendadak tanpa rencana. Ada beragam hal yang membuat seorang mempunyai sikap stimulanive buying seperti ikuti situasi hati, tidak ingin ketinggal jaman, lapar mata atau mendapatkan tambahan dana.

Seorang stimulanive buying sedikit pikirkan manfaat barang saat beli. Beberapa periset menyangka jika emosi dan perasaan berperanan besar dalam keputusan seorang stimulanive buyers. Pantas diakui jika stimulanive buying bisa membuat keadaan keuangan kita kurang sehat. Kita terus akan buang uang untuk hal yang sebenarnya tidak begitu kita perlukan. Bahaya khan?

Lalu, bagaimanakah cara menangani sikap stimulanive buying?

Panduan Menahan Stimulanive Buying

1. Yakinkan barang perlu dibeli atau mungkin tidak dalam 30 hari

Panduan pertama menahan stimulanive buying dengan menulis barang yang ingin kamu membeli, selanjutnya saksikan kembali 30 hari setelah itu. Dengan lakukan pendataan ini dan menyaksikannya 30 hari selanjutnya, karena itu kamu bisa pastikan jika barang itu perlu untuk dibeli. Ini bisa dijumpai saat kamu masih mempunyai minat yang serupa untuk beli barang itu sesudah menyaksikannya kembali. Bila sesudah menyaksikan daftar itu kamu masih berminat untuk membeli, kemungkinan produk itu masih kamu perlukan dan penting untuk dipakai.

2. Awasi akses e-commerce

Hal ke-2 yang bisa kamu kerjakan untuk menghindar sikap stimulanive buying dengan batasi akses e-commerce. Lumayan banyak dorongan yang bisa diberi oleh e-commerce untuk membuat kamu lakukan stimulanive buying. Satu diantaranya ialah ada penampilan yang memikat, referensi produk yang ada terus-terusan di situs khusus, dan potongan harga yang lumayan tinggi. Kamu dapat belanja lebih gampang di website e-commerce yang membuat kamu tidak berpikiran panjang saat beli satu barang. Karena itu, kamu perlu batasi akses padanya.

3. Ingatlah kembali arah keuanganmu

Panduan menahan stimulanive buying setelah itu kamu perlu mengingat lagi arah keuanganmu. Bila kamu perlu menyisihkan penghasilan untuk tabungan, karena itu kamu perlu betul-betul batasi pengeluaran yang kurang berguna. Menurut Quickanddirtytips, bila kamu ingat arah keuanganmu, maka mempengaruhi sikap pembelianmu.

4. Pikirkan perannya

Hal setelah itu kamu perlu menimbang kembali peranan dari barang yang hendak dibeli. Apa dengan membeli segera dapat kurangi persoalanmu, atau cuma kemauan untuk memiliki saja. Dengan melatih ini, karena itu sikap stimulanive buying makin lama akan terkurangi.

5. Tidak boleh belanja saat sedang depresi

Salah satunya pemicu stimulanive buying ialah ada hati depresi yang mempengaruhi emosimu. Kamu semakin lebih gampang kepancing untuk mempunyai suatu hal saat sedang ada beban pemikiran. Oleh karena itu, jauhi akses e-commerce atau ke pusat belanja saat kamu sedang mempunyai beban pemikiran. Kamu bisa lakukan hal yang lain tidak membutuhkan ongkos lebih, seperti bermain dengan hewan piaran, melihat video lucu, atau jalanan berkeliling-keliling lingkungan rumahmu.

6. Ingat penyesalan saat akhir kali lakukan stimulanive buying

Hal selanjutnya yang bisa kamu kerjakan untuk menahan stimulanive buying dengan ingat penyesalan saat akhir kali kamu melakukan. Dengan demikian, karena itu kamu bisa kurangi sikap stimulanive buying yang akan datang.

7. Buat bujet bulanan/waktu periode tertentu

Gagasan pengeluaran yang telah ditetapkan untuk sebulan menjadi panduan efisien menahan stimulanive buying. Diambil dari Maestrack, stimulanive buying muncul karena beberapa orang tidak mempunyai waktu membuat gagasan pengeluaran bulanan. Membuat gagasan pengeluaran bulanan dapat membuat seorang terpacu untuk ikuti gagasan pengeluaran yang sudah dibikin. Disamping itu, kamu lebih pahami keadaaan keuangan dengan lebih bagus. Seperti apa ada uang extra untuk beli kemauanmu atau mungkin tidak.

8. Buat daftar berbelanja

Satu poin utama yang lain perlu kamu kerjakan bila kamu stimulanive buyer ialah jangan sampai berbelanja tanpa shopping daftar atau daftar berbelanja. Karena ada daftar berbelanja, kamu dapat membandingkan yang mana betul-betul diperlukan dan cuma kemauan sebentar..

9. Jauhi window shopping

Sering, kemauan untuk beli suatu hal ada saat kamu tidak menyengaja menyaksikan satu barang dan mendadak berasa memerlukannya. Ini dapat terjadi saat kamu lakukan window shopping. Tidak hanya di mal atau toko, ini dapat dilaksanakan dalam e-commerce, cukup dengan melihat-lihat barang yang potongan harga misalkan. Kamu dapat dengan mendadak membayar barang yang sebetulnya tidak diperlukan.

10. Awasi limit kartu credit

Bila berasa tidak dapat mengatur diri, kamu dapat mengaplikasikan panduan dengan memberi batasan limit dari kartu credit. Merilis Finance Over Fifty, batasi atau bahkan juga membekukan kartu credit menjadi cara yang mencolok tetapi efisien. Istilahnya kamu dipaksakan untuk lakukan transaksi bisnis cukup dengan memakai kontan, hingga kemungkinan besar kamu tidak beli beberapa barang mahal secara stimulanive. 

Tersebut beberapa panduan menahan stimulanive buying yang bisa kamu kerjakan. Sudah diketahui, sikap stimulanive buying pasti bukan hal bagus untuk keuanganmu. Oleh karena itu, kamu perlu sadar dan mempunyai niat untuk kuranginya. Walau demikian, ini bukan salah satu langkah membuat keadaan keuanganmu lebih bagus. Ada banyak hal yang penting kamu kenali dalam mengelola keuangan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama