Kehidupanku Sangat Baik, Tetapi Tidak Dengan Dunia Luar

Hidupku normal jika kau bilang begitu. Orang tua mencintai saya, dan saudara mencintai saya, Jadi apa yang tidak baik? sangat menyesal. Emosi menguasaiku. Mudah marah, mudah menangis, mudah tertawa, tidak masalah. Ketika kemarahan melintasi pikiran Anda, Anda tidak bisa melepaskan apa pun. Tenggorokan saya sakit karena saya tidak bisa mengekspresikan diri.

Apa yang menjadi pelampiasan saya? Menangis. Menyakiti diri. Berpura-pura bahwa saya baik di balik sebuah tawa dan keusilan saya. Teman-teman dan keluarga saya tidak pernah terpikirkan hal itu sedikit pun.

Kenapa? Ya, saya jatuh ke dalam apa yang disebut kepura-puraan. Untuk beberapa saat ini, saya sudah berusaha untuk lebih sabar, berpikir lebih rasional dan tenang, dan menurunkan topeng saya agar tidak melukai diri sendiri.

Saya merasa baik setelahnya, meski rasanya sangat sulit

Kemudian saya bertemu dengan mereka. Salah satu teman saya di sekolah, sisanya saya bertemu melalui media sosial.

Seorang teman sekolah saya terluka. Orang tuanya bercerai, pendapatnya jarang terdengar di keluarga, dan dia cemburu pada adik laki-lakinya. Dia mengatakan kepada saya bahwa hidupnya sulit. Berbagai jenis obat dipaksa masuk ke dalam tubuh. Cakar menarik diri, menghembuskan emosi yang tak terungkapkan.

Saya menawarkan diri untuk bercerita, dan dia menerimanya.

Setelah itu, hidup saya dimulai lagi dan saya mendapat teman baru melalui grup roleplaying. Anda tahu roleplayer, kan? Saya menggunakan grup ini sebagai inspirasi ketika saya merasa ingin menyerah, atau ketika saya merasakan gelombang emosi negatif datang kembali.

Hari demi hari, saya sadar akan sikap mereka di dunia maya sedikit bersinggungan dengan dunia nyata mereka.

Saya tidak terlalu tahu apa yang terjadi dengan mereka, tetapi saya mengetahui satu hal: masalah mereka lebih buruk dibanding saya juga teman saya di sekolah.

Mereka dijauhi keluarga sendiri, orang tua lebih mencintai saudara mereka. Mereka kesulitan berkomunikasi, tidak dapat memberitahu perasaan mereka sendiri.

Saya sangat terkejut kala salah satu dari mereka bahwa ia melakukan self harm . Tidak memiliki teman di dunia nyata. Teman-temannya sering datang ke rumah, memberi sejumlah PR untuk dia bekerja. temukanlah, teman saya ini home-schooling dan teman-temannya yang datang dari sekolahnya yang lama. Saya pikir wajar kala sikapnya di dalam grup chat itu terkesan dramatis. Dia ingin simpati, ingin diperhatikan saat semua orang di sekeliling hidupnya tidak peduli.

“Cintailah dirimu kala semua orang mencari egois.”

Suatu hari, seseorang yang juga bergabung dalam grup yang sama memarahi saya. Saya mengatakan tengah melakukan diet, dan saya menjelaskan alasan saya diet untuk tes keanggotaan. Dia marah, bilang apa gunanya diet. Dia menyuruh saya untuk mencintai diri sendiri kala semua orang egois.

Saya mengerti maksudnya, dan di akhir nasihatnya dia mengatakan kalau dia sakit. Dengan segala rasa penasaran yang ingin saya balas, menanyakan keadaannya. Selanjutnya, kisahnya mengalir melalui ketikan chat.

Orang tuanya bercerai, dia anak tunggal, semua orang mengatakannya gila karena sering berbicara sendiri (saya berpikir dia tidak gila, karena settahu saya orang jenius adalah orang yang sering berbicara pada dirinya sendiri), dirinya merasa ada jiwa lain di dalam tubuhnya menghasutnya melakukan hal yang di luar keinginannya.

Saya pernah dalam posisi seperti mereka, posisi di mana rasanya lebih baik mati, posisi di mana diri ini rasanya tak berharga.

Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk mereka?

Saya menawarkan diri sebagai tempat mereka berkeluh kesah, menjadikan kembali teman sekolah saya sebagai tempat berbagi saya mengenai teman-teman dunia maya.

Tetapi, ada satu kejadian yang membuat saya bungkam. Ketika ketiganya mengatakan pada saya, “Tolong untuk jangan terlalu baik, saat saya merasa sangat membutuhkan dan membutuhkan kamu, apa kamu bisa berjanji untuk tetap di sisi saya?”

Kalimat itu menusuk saya, lalu menembus jantung hingga ke sisi tubuh lainnya. Benar. Apa saya akan tetap ada saat mereka butuh? Apa saya mampu mendengarkan mereka lebih banyak?

Apa saya bisa membantu mereka lebih dari sekedar chat?

Akhirnya saya sadar, saya tidak bisa membantu mereka sama sekali. Saat satu dari mereka melampiaskan emosi melalui minuman keras dan berakhir di kamar teman lelakinya, saya hanya bisa menangis saat dia bercerita.

Saya tidak berguna. Mendengarkan kisah mereka tidak membantu sama sekali.

Lalu guna saya apa? Hanya mendengarkan mereka?

Jangan berpikir bahwa saya sebagai tempat pelarian. Saya sering tidak dianggap. Dan saat ada seseorang membutuhkan saya atau hanya datang saat butuh, di situlah saya merasa berharga.

Dan lagi-lagi. Topeng-topeng yang perlahan turun dari wajah saya, kembali naik untuk saya kenakan. Rasa sakit mereka, kesulitan mereka, kehidupan buruk mereka, menarik saya jatuh pada emosi yang tidak terkontrol. Saya ingin membantu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Cerita ini berakhir. Saya jatuh kembali ke diri saya yang lama hanya karena saya tidak dapat membantu mereka. itu menyakiti saya.


Ditulis oleh PVaga

Belum ada Komentar untuk "Kehidupanku Sangat Baik, Tetapi Tidak Dengan Dunia Luar"

Posting Komentar

Jangan Merubah Kode Ini

Jangan Merubah Kode Ini

Jangan Merubah Kode Ini

Jangan Merubah Kode Ini