5 Hal yang Menyebabkan Kamu Gagal Pensiun

Angka harapan hidup orang Indonesia meningkat. Dari 73.4 di tahun 2020, menjadi 73.5 di tahun 2021. Memang tampaknya hanya tipis, tapi ini kan secara rata-rata. Sementara, peningkatan angka harapan hidup ini berarti bahwa kesejahteraan meningkat juga. Benarkah demikian? Ya, secara teori sih begitu. Tapi juga bisa berarti masa pensiun kita akan lebih panjang.

Padahal, 7 dari 10 pensiunan yang hidup di negeri ini justru memiliki masalah keuangan. Salah satunya karena enggak punya dana pensiun yang mencukupi, yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dikutip dari situs bisnis.com, data dari Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pun mendukung prevalensi ini, dengan menyatakan bahwa hanya 9% pensiunan dapat hidup sejahtera. Sementara, 18%-nya kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan, dan 73% bergantung pada orang lain—termasuk anak-anak mereka—saat menjalani masa pensiun.

Dengan kata lain, ternyata banyak orang yang tidak pensiun adalah orang kaya dan mandiri.

Duh, pastinya, ini bukan angka yang bisa dibanggakan. Bahkan malah miris, ya kan? Kebayang enggak, kalau kita harus bekerja sampai tua? Padahal, masa pensiun idealnya adalah masa-masa ketika kita bisa menikmati hasil kerja keras di masa produktif, dan bukannya harus kembali kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tapi, memangnya kalau pensiun itu enggak boleh kerja ya? Bosen dong! Nah, untuk itu, ayo kita lihat lagi definisi dari pensiun.

Apa Itu Pensiun?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pensiun berarti tidak lagi bekerja  karena habis masa jabatannya.

Namun sebenarnya, enggak ada yang melarang juga kalau mau tetap bekerja saat kita sudah memasuki usia pensiun. Hanya saja, seharusnya “memenuhi kebutuhan hidup” sudah tak lagi menjadi tujuannya. Kita bekerja seharusnya sudah tidak karena target keuangan, karena berbagai tujuan finansial seharusnya sudah terpenuhi; rumah atau tempat tinggal sudah ada dan nyaman, serta anak-anak sudah mandiri.

Nah, itulah perbedaannya. Jika kita masih bekerja untuk membeli makanan saat kita tidak bekerja, kemungkinan besar kita tidak makan. Bekerja untuk melunasi hutang, bekerja untuk membayar sewa ketika sakit, tidak mampu membayar tagihan medis, dan memiliki segala macam masalah keuangan—itulah arti sebenarnya dari tidak pensiun.

Tapi, fakta di lapangan menunjukkan, bahwa hal-hal seperti yang baru saja disebutkan itu, banyak terjadi. Apa yang bisa menyebabkan seseorang gagal pensiun?

Penyebab Gagal Pensiun

1. Terlalu sibuk dengan masa kini

Ya, memang sih, merencanakan masa depan itu bukan kewajiban. Beda dengan masa kini yang banyak kewajiban. Tapi, nantinya, kalau tidak direncanakan dengan baik, masa depan akan bisa menyulitkan.

Sayangnya, masa pensiun itu pasti akan datang, dan kita pasti akan tiba pada waktunya untuk habis energinya. Tubuh sudah tak bugar lagi, setelah 20 – 30 tahun berlalu. Merasa waktu masih panjang, sayang banget kalau “dibuang” hanya untuk mikirin pensiun.

Tapi memang begitulah kondisinya. Rasanya akan lebih seksi kalau kita membuat rencana liburan, ketimbang rencana pensiun. Lebih asyik memikirkan rencana buat beli mobil, ketimbang mikirin pensiun. Ya, memang, untuk satu titik, liburan dan mobil barangkali juga dirasa perlu. Tapi, sebaiknya tak hanya berhenti di situ, kita harus memiliki rencana sampai jauh ke depan. Barulah saat itu kita mendapatkan financial security.

2. Masih terbebani dengan kebutuhan saat ini

Misalnya saja buat para sandwich generation, yang harus memenuhi kebutuhan dan hajat hidup banyak nyawa. Banyak yang mengeluh, untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja sulit, jangankan untuk memikirkan biaya hidup nanti di masa pensiun.

Ya itu benar-benar sulit. Tidak ada yang bisa disalahkan. Namun pada prinsipnya, sebagai Sandwich Generation, Anda juga bisa mempersiapkan hari tua dan meraih kebebasan finansial.

Jangan menyerah pada kondisi ya.

3. Mengandalkan anak

Nah, ini sih biasanya dilakukan oleh mereka yang menganggap anak sebagai “instrumen investasi”. Harapannya, dengan melahirkan dan membesarkan anak, kemudian anak nanti akan diandalkan sebagai “penghasilan pasif”.

Ada memang yang kayak gini? Ada dong, jangan salah. Bisa jadi ini malah orang terdekat kita loh yang kayak gini.

Miris kan sebenarnya. Padahal ya seperti halnya kita tidak boleh menganggap orang tua sebagai dana darurat, anak juga bukan merupakan instrumen dana pensiun. Anak ya anak, yang nantinya punya keluarga sendiri dan menjadi tanggungannya. Masa depan orang tua bukan menjadi tanggung jawabnya. Karena di sini tidak berlaku bolak balik, seperti halnya orang tua memang bertanggung jawab atas anak-anak mereka. Beda status memang.

So, kalau kamu termasuk dalam kelompok yang akan mengandalkan anak di masa depan, yuk, ubah mindsetmu! Akan sangat lebih baik kalau kita bisa mandiri sampai tua. Bahkan akan ada rasa bangga ketika—meski sudah pensiun—kita masih bisa traktir anak cucu dengan uang pensiun kita. Berasa masih “berguna”, gitu.

4. Salah perhitungan

Untuk bisa membuat jaminan bagi diri sendiri saat menjalani hari tua nanti, kita memang harus bisa memproyeksikan berapa kebutuhan kita di masa pensiun nanti. Mungkin ini agak terdengar rumit, karena kita harus menghitung berdasarkan prediksi yang kemudian dipengaruhi juga oleh banyak hal.

Memang ada rumus yang lebih praktis, yaitu The 4% Rule. Cara menggunakan rumus ini: hitung total pengeluaran tahunan, lalu dikalikan 25—yang merupakan pembagian 100% : 4%. Nah, hasil akhir yang kamu dapatkan merupakan dana pensiun yang harus dikumpulkan untuk bisa pensiun mandiri dan sejahtera.

Namun, meski sudah dihitung dengan rumus ini, tetap saja belum pasti. Pasalnya, banyak juga faktor yang memengaruhi. FYI, the 4% Rule ini lahir dari penelitian para pakar keuangan di Amerika Serikat. Sedangkan, kondisi di Indonesia jauh berbeda dengan negeri Paman Sam tersebut. Belum lagi, rumus ini mengabaikan berbagai krisis yang bisa terjadi. Dengan demikian, potensi salah perhitungan tetap bisa terjadi.

Yang jelas jika salah perhitungan, efeknya dana yang terkumpul tidak cukup. Tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau begitu, ada kemungkinan pensiun tidak akan berjalan lancar, bukan?

5. Masih harus mencicil utang

Utang, misalnya saja seperti KPR, biasanya sudah memperhitungkan usia produktif. Dengan kata lain, pengajuan pinjaman dana yang melebihi usia produktif biasanya akan sulit untuk disetujui. Namun, hal ini tidak berlaku untuk berbagai jenis utang konsumtif. Utang kartu kredit, misalnya, selama kartu kredit masih kita miliki dan gunakan, ya sampai kapan pun kita bisa utang.

Utang di saat kita sudah tak punya pemasukan aktif bisa jadi memunculkan masalah. Beban hidup bertambah, dan masih stres juga memikirkan dari mana bisa membayarnya.

Sungguh bukan gambaran masa pensiun yang mandiri dan sejahtera, bukan?

Nah, sampai di sini, kira-kira yang mana nih yang menjadi masalah kamu? Hati-hati, karena bisa jadi kamu termasuk salah satu dari 91% orang yang gagal pensiun mandiri dan sejahtera, kalau masalah tersebut belum diatasi atau dicari solusinya.

So guys, yuk, mumpung masih muda, segera buat rencana pensiun, karena ingat, waktu adalah teman terbaik investasi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama